Namaku
adalah Rahmi Ramadhani . aku hanyalah gadis dari desa yang merantau ke kota
metropolitan dengan berharap bisa menggapai apa yang menjadi cita-citaku selama
ini. Sekarang aku tinggal di Jakarta bersama kakak sekaligus istrinya. aku
sekolah di SMAN 2 Jakarta. Duduk dibangku kelas XI. Kakakku yang mengurus dan membiayai
semua keperluan sekolahku disini.
**
Hari
sudah pagi. Aku bergegas siap-siap untuk
pergi ke sekolah baruku. Tak ingin terlambat walau sedetik pun. Ayo.. aku harus
semangat! Demi kedua orang tua dan keluargaku. Aku tak ingin mengecewakan
mereka. Tapi apakah aku bisa beradaptasi dan berteman baik dengan teman-teman
baruku nanti? Aku takut mereka tak ingin berteman dengan anak desa seperti
aku ini. Tapi kenapa tidak? Toh aku dan
mereka sama kok. Sama-sama mau menuntut ilmu. Yaa.. aku pasti bisa!
Aku
keluar dari kamar dan menghampiri kakak-kakakku yang berada di ruang tengah.
“kak, aku pamit berangkat sekolah dulu ya”
“kamu
masih ingat kan jalannya? Bisa-bisa nanti kamu tersesat lagi” kata kakakku khawatir.
“iya aku
masih ingat kok kak. Lagian lumayan deket juga kan? Jadi gak akan tersesat,
tenang aja!” jawabku enteng.
“yaudah
kalau gitu kamu hati-hai ya!” kata kakak iparku.
“oke
kak” kataku sambil mencium tangan kakakku dan istrinya itu.
Aku
berangkat menggunakan sepeda motor pemberian kakak. Selama perjalanan menuju
sekolah, aku membayangkan bagaimana teman-teman sekelas nanti? Apakah mereka
sombong, banyak gaya dan suka nge-bully
seperti yang di tv-tv itu? . aaah.. aku harap tidak.
Tak terasa aku pun sudah berada tepat di pintu
masuk sekolah. Aku masuk dan mulai kebingungan mencari ruangan yang akan
menjadi kelasku. Sudah hampir semua sudut sekolah ini aku lalui, tapi belum
ketemu juga. Aku terus berjalan. Hingga akhirnya
sebuah papan bertuliskan Kelas XI IA 3 terpampang di atas pintu kelas yang ada
di hadapanku.
Suasana
kelas yang ramai dengan penghuninya yang
asing, membuatku tak berani masuk sebelum bel masuk berbunyi. Aku berdiri
didepan pintu sambil melihat apa yang ada disekitarku saat ini. Lalu-lalang
murid yang menuju kelasnya masing-masing.
“hai,
kamu siapa? Anak baru ya?” Tanya seorang cowok yang membuatku terkejut.
“eh..
emm iya. Aku anak baru” jawabku gugup.
Cowok
ini rasanya aku kenal. Wajahnya gak asing buatku.
“hei,
kok ngelamun?” Kata cowok itu sambil melambai-lambaikan tangannya didepan
wajahku.
Seketika
itu aku tersadar dari lamunanku.
“eh, iya
maaf”
“jadi
kamu ini di kelas mana?” tanyanya
penasaran.
“kelas
aku disini. XI IA 3”
“lho,
berarti kita sekelas dong. Kenalin, namaku Daniel” dia mengulurkan tangannya.
“aku
Rahmi” membalas uluran tangannya
*teeeng..
teeeng
Bel
berbunyi pertanda pelajaran akan segera dimulai. Aku dan Daniel masuk kelas
bersama. Kelas yang tadinya ramai, menjadi hening ketika aku dan Daniel datang.
Semua mata tertuju padaku. Mungkin mereka heran, siapa yang bersama temannya
itu?. Sambil menunggu guru masuk, Daniel
pun memperkenalkan aku kepada murid-murid di kelas ini.
“teman-teman
kenalin nih teman baru kita, Namanya Rahmi. Aku harap kita bisa menerima dan
berteman baik dengan Rahmi” jelasnya.
“Pindahan
dari mana?” Tanya seseorang .
Belum
sempat menjawab pertanyaan itu, aku dan Daniel bertatapan begitu mendengar
suara langkah kaki seseorang menuju kelas ini. Aku langsung beranjak ke tempat
duduk yang kosong. Begitu juga dengan Daniel. Dan benar saja, seseorang muncul
dari balik pintu dengan membawa beberapa tumpukkan buku ditangannya. Ya beliau
adalah bapak guru yang akan mengajar di kelasku hari ini.
Jam
pelajaran sudah habis. Hari pertama masuk sekolah berhasil aku lewati dengan
baik dan senang hati. Ternyata teman-teman disini baik-baik. Gak seperti apa
yang aku pikirkan selama ini. Iya, memang gak semua anak di Jakarta itu sombong
dan suka nge-bully. Seharusnya memang aku tak berpikiran negatif tentang
anak-anak disini.
“mi, mau
pulang bareng gak?”ajak teman disebelahku yang bernama Nadia.
“makasih
Nad tawarannya, tapi aku bawa motor”
“oh iya
enggak apa-apa. Kalau gitu aku pulang duluan ya? daaah” sambil beranjak keluar.
“oke .
Hati-hati Nad” kataku dengan suara agak keras.
Daniel
menghampiri dan duduk disampingku yang tengah membereskan buku ke tas.
“kamu
pulang naik motor? Barengan yuk ke parkirannya” ajak Daniel.
“iya
ayo”
Aku dan
Daniel berjalan menuju parkiran.
“oh iya,
ngomong-ngomong kenapa sih kamu mau tinggal dan sekolah di Jakarta?” Daniel
memulai pembicaraan.
“Disini
aku mau mengejar mimpi aku. Mengejar apa yang menjadi cita-citaku selama ini.
Mungkin disini aku bisa lebih fokus”
“emang apa
cita-cita kamu?”
“aku mau
jadi penulis” jawabku percaya diri.
“waaah..
kok bisa sama ya?”
“laah,
emang kamu juga mau jadi penulis?”
“iya,
aku juga mau banget jadi penulis yang terkenal. Kita bisa raih mimpi
bareng-bareng dong” ujar Daniel sambil
tersenyum dengan penuh harapan.
“oke,
kita raih mimpi bareng-bareng. Semangaaaat!” kataku bersemangat.
**
Semakin
hari, persahabatan aku dan Daniel menjadi semakin erat. Terlebih karena kita
sama-sama hobi menulis. Banyak hal yang kita lewati bersama-sama, apalagi dalam
hal menulis dan berkarya. Daniel selalu memotivasi dan menginspirasiku. Dia
yang selalu ngasih kritik dan saran pada tulisanku agar lebih baik dan baik
lagi. Sekarang aku tahu kalau dia memang benar-benar peduli sama aku, mimpiku
dan mimpinya. Iya, peduli pada mimpi kita. Kita selalu bersama-sama dalam keadaan apapun.
Bahkan teman-temanku bilang kalau ada aku pasti ada Daniel, sudah seperti
perangko yang menempel lekat disuratnya. Banyak yang mengira aku dan Daniel
berpacaran. Salah satunya adalah Dinda, kakak kelasku yang ngetop di sekolahku
ini. Siapa sih yang gak kenal Dinda?. Semua penghuni sekolah ini pasti
mengenalnya. Gadis cantik, anak pengusaha terkenal di Jakarta. Namun sayang,
sifat sombong dan angkuhnya membuat kecantikannya luntur dihadapanku terutama
dihadapan Daniel. Menurut ungkapan Daniel saat aku tanya tentang Dinda,
ternyata Dinda sudah lama suka dan mengejar
Daniel, tapi tak pernah direspon sedikitpun.
“heh,
sini lo!” Dinda menunjuk dan memanggilku
ketika aku sampai diparkiran sekolah. sepertinya dia sudah lama menunggu
kedatanganku. Terlihat dari wajahnya yang sudah mulai bĂȘte. Tapi.. tumben dia
sudah ada di sekolah jam segini. Ada apa ya? Dengan hati yang dag dig dug, aku menghampiri Dinda.
“iya ka,
ada apa?” aku mencoba santai menanggapinya.
“jangan
so polos deh lo! Gue peringatin ya sama lo, sebaiknya lo jauhin Daniel deh!
Jangan deket-deket sama dia! Ngerti lo?”
“emangnya
kenapa ka? Aku kan Cuma sahabatan sama Daniel. Kita gak pacaran ko”
“mau
sahabatan atau apapun itu, lo harus jauhin Daniel! Awas aja lo kalo masih
deket-deket!” Dinda mendorongku sampai terjatuh. Teman-teman yang melihtku tak
ada yang berani menolongku, karena Dinda masih berada tepat didepanku. Tak
lama, Dinda pun lenyap dari hadapanku. Kenapa Dinda selalu seenaknya sama orang
lain? Apa dia merasa punya segalanya? Kemana hati nurani dia? aku heran.
Dengan lutut
yang sakit akibat dorongan Dinda, aku mencoba berdiri. Berjalan tertatih-tatih
menuju kelas.
Aku
berpapasan dengan Daniel dari arah berlawanan. Dia melirik ke arah lututku yang
memar. Ekspresi dia yang terlihat antara heran dan khawatir dengan keadaanku.
Segera dia memapangku ke uks. Aku menceritakan sikap Dinda kepadaku tadi. Dia
tak percaya Dinda setega itu kepadaku. Daniel
berbicara baik-baik kepada Dinda untuk tidak lagi melakukan hal yang sama.
Untuk tidak melarangku dekat dengannya. Daniel mengungkapkan harapannya agar
Dinda merubah sifatnya yang angkuh dan sombong itu. Ya itu memang ide yang baik
dibanding harus marah-marah dan balas dendam.
**
Aku
heran dengan perubahan sikap Daniel terhadapku yang tiba-tiba berubah. Tak
seperti biasanya, Akhir-akhir ini Daniel seperti jaga jarak denganku. Jarang
ada waktu untuk bersamaku. Sekolah pun jarang. Aneeeh, biasanya dia yang paling
rajin sekolah. Aku dan Daniel benar-benar lost-contac
dalam pikiranku penuh dengan pertanyaan tentangnya. kenapa Daniel jadi begini?
Apa ada sesuatu?.
Nadia
yang melihatku sedang gundah, langsung bertanya kepadaku.
“kamu
kenapa sih? kayanya lagi mikirin sesuatu. Mikirin apa sih?” tanyanya dengan
wajah penasaran.
“ini
Nad, aku lagi mikirin Daniel. Kenapa ya dia kok beda? Gak seperti yang aku
kenal dulu. Kamu tahu gak kenapa?”
“emm.. “
Nadia kebingungan.
“kamu
tahu sesuatu tentang dia ya? Ayo jujur Nad!” aku setengah memaksa.
“sebenarnya….”
Nadia menghentikan obrolannya seperti ragu-ragu untuk mengatakannya.
“
Sebenarnya apa Nad?”
“sebenarnyaaa..
Daniel sakit mi. beberapa bulan yang
lalu dia dinyatakan sakit kanker. Dia menyembunyikannya dari kamu, karena dia
gak mau buat kamu sedih dengan keadaannya” jelas Nadia
“kamu
gak bohong kan? Kenapa kamu baru kasih tahu aku sekarang Nad? Kenapaaa?”
“tadinya
aku gak mau lihat kamu sedih mi. Tapi makin lama aku gak tega lihat kamu
seperti ini. Makanya aku ungkap semuanya sekarang. Maafin aku Mi”
“Sekarang
dimana dia? Aku mau bertemu dengannya”
“Kemarin
dia pergi ke Australi untuk berobat mi. Dan dia menitipkan surat ini untukmu”
kata Nadia sambil menyerahkan surat yang ada ditangannya.
Aku
membuka dan membaca surat itu.
Dear Rahmi,
Ketika kamu baca surat ini, aku
sudah berada di Negara lain. Mungkin kamu sudah tahu dari Nadia atas apa yang
ku alami. Maaf aku gak berani berpamitan langsung kepadamu. Do’a kan aku supaya
pengobatanku disini membuahkan hasil supaya nanti kita bisa meraih mimpi kita
sama-sama. Seandainya umurku tak lama lagi dan aku tak bisa meraih mimpiku, aku
akan merasa bahagia kalau kamu bisa meraih mimpi kita. Kamu janji ya untuk
selalu berkarya, terutama berkarya dalam menulis! Semangaaat sahabatku! Aku
bahagia bisa kenal dan bersahabat denganmu.
Bye
Daniel
Perlahan
air mataku menetes tanpa sadar ketika membaca surat itu “aku pasti selalu berdoa untuk kesembuhanmu ,
Daniel” ucapku setelah membaca surat itu. aku
menangis dalam pelukkan Nadia. Nadia pasti tahu perasaanku yang tak
ingin kehilangan sahabat seperti Daniel. Mata Nadia ikut berkaca-kaca saat aku
menangis.
**
Dua bulan telah berlalu. Tak pernah ada kabar
yang aku dengar tentang Daniel. Apa dia masih belum sembuh dari sakitnya?
Segitu parahnya kah penyakit dia? Setiap hari aku selalu berharap dapat kabar
darinya.
Ddrrtt.. drrtt. Tiba-tiba handphoneku bergetar
pertanda ada sms masuk. Nomornya gak dikenal. Siapa ya?. Aku buka dan membaca
smsnya. Hah? Apakah sms ini beneran dari orang tuanya Daniel? Badanku lemas
setelah membaca sms itu. air mataku mengalir deras. Kenapa Daniel ninggalin aku
secepat ini? Kali ini Daniel benar-benar pergi. Pergi dari kehidupan ini. Tak
aku sangka umur Daniel begitu singkat. Rasanya baru kemarin kita bertemu. Tapi
sekarang kita berpisah. Selamat jalan sahabatku. Semoga kamu tenang di alam
sana. aku akan mencoba mewujudkan mimpi kita untuk jadi penulis yang hebat. Ya
aku akan berusaha mewujudkannya!
Hari
demi hari aku lewati tanpa adanya sosok sahabat sebaik Daniel. Aku benar-benar
kehilangan. Kehilangan sahabat yang selalu ada saat suka maupun duka. Sahabat
yang tak pernah bosan mendengar keluh kesahku tentang kehidupan ini. Kadang,
kenangan aku dengannya selalu hadir dalam aktifitasku. Selalu ingin kembali pda
masa-masa indah itu. Tapi itu tak mungkin. Aku tak boleh larut dalam kesedihan.
Ingat! Masih ada hari-hari yang harus aku
lewati dengan baik dan indah. Seperti kata Daniel, aku harus semangat
dalam menjalani kehidupan ini. Harus!. Dengan tekad yang bulat dan kuat,
semangat yang menggebu dan harapan yang besar, aku mampu bangkit dari
kesedihan. Ada Nadia dan keluarga Daniel yang selalu berusaha menghibur dan
membantuku untuk mewujudkan mimpiku.
Aku
mengikuti kompetisi menulis cerpen antar sekolah. semuanya aku lewati dengan
optimis. Tiba saatnya pengumuman juara penulis terbaik. Kakak, Nadia dan
keluarga Daniel hadir mendampingiku. Hatiku tak karuan. Harap-harap cemas
menantikan pengumuman itu.
“Dan
yang meraih juara pertama sekaligus meraih predikat penulis cerpen terbaik
antar sekolah ini adalaaaah….” Pembawa acara itu menghentikan ucapannya
sejenak.
“Rahmi
Ramadhani” dia melanjutkan ucapannya dengan lantang.
Suara tepuk
tangan dari orang-orang meramaikan suasana bahagia ini. Ucapan dari teman-teman
terdekatku terus mengalir. Aku senang bukan main. Prestasi ini aku persembahkan
untuk Daniel yang mungkin juga melihatku disini sedang berbahagia. Aku menuju
podium dan mengucapkan ucapan terima kasihku.
“terima
kasih untuk orang-orang yang selalu ada dan mendukung aku. Semua ini aku
persembahkan untuk sahabatku yang berada di alam sana. Kita punya mimpi yang
sama dan pernah mencoba mewujudkan mimpi sama-sama. Namun, Allah berkehendak
lain. Terima kasih untuk semuanya. Semoga ini awal yang baik untukku”.
*The End*
Karya: Ira Rahmawati