Showing posts with label Kreasiku. Show all posts
Showing posts with label Kreasiku. Show all posts

Thursday, 15 September 2016

Rindu

malam ini, aku masih tetap sama
masih merindukannya dgn tetes airmata
bersama bintang-bintang
dilangit yang indah
aku titipkan kerinduan


ditempat yg berbeda
mungkin kita sedang menatap langit yg sama
andai waktu mengijinkan
untuk aku sekedar bergurau dengannya
melepas rindu walau hanya dalam angan

Tuesday, 11 November 2014

Cerpen "Kamu itu Alasanku"

Lapangan hijau menjadi tempat favoritku. Walaupun ada beratus-ratus tempat yang mungkin lebih menyenangkan dari ini, tapi bagiku lapangan bola tetap yang paling menyenangkan. Hobiku bermain sepak bola. Tak aneh kan? Iya emang kebanyakan hobi seorang lelaki itu adalah bermain sepak bola.
 Meskipun ada beberapa yang sama sekali tak menyukainya. Mereka punya alasannya masing-masing,termasuk aku.“eh Dim, ada kabar bagus nih” ujar Ifan yang datang  ke kelas dengan nafas tak karuan.“ada apaan sih lo? rempong amat” jawabku
“tadi gue denger dari ketua tim futsal… katanya bakalan ada pertandingan futsal antar kelas” lanjut Ifan.
“serius lo Fan?” samber Iqbal yang langsung menghampiri bangku  aku dan Ifan.
“ga percaya lo? berita dari gue itu actual dan terpercaya kali” jawab Ifan dengan nada tinggi.
“ Okelah kalo emang bener, pokonya tim futsal kelas kita mesti ikutan bro. tunjukin kemampuan kita!”  kataku bersemangat.
Jam pelajaran sebentar lagi akan dimulai. Kimia menjadi pelajaran pertama hari ini. Malas sebenarnya aku menghadapi rumus-rumus yang sudah menanti. Aku memang tak pandai dalam hal ini, ku akui itu. Dan sekarang, pikiranku tertuju pada perkataan Ifan tadi. Semoga berita itu benar adanya. Sudah lama aku menginginkan pertandingan sepak bola ataupun futsal di sekolah ini. Aku tak memperhatikan apa yang dijelaskan guru kimia di depan. Tak lama, seseorang masuk.
“maaf bu, mengganggu waktunya. Saya mau menyampaikan pengumuman sebentar, boleh?” ucap ketua tim futsal bernama Dani dari pintu kelas ku.
“iya silakan” jawab ibu guru.
Aku melirik kearah Ifan dan Iqbal begitu Dani masuk ke kelas. Kayanya ucapan Ifan emang engga omong kosong.
“gue ga boong bro, tuh buktinya” bisik Ifan kepada Iqbal sambil tersenyum.
“saya selaku ketua tim futsal ingin memberitahukan bahwa selama beberapa minggu ke depan akan diadakan pertandingan futsal antar kelas. Untuk pendaftarannya ditunggu di aula setelah pulang sekolah. terima kasih”
Suasana kelas mulai riuh saat itu pula.
“kalian wajib ikutan!” celetuk temanku yang bernama Winda.
“tenang! Kita pasti ikutan dan pasti menang”  jawab Ifan dengan pede. Iyalah, pede itu harus untuk menambah semangat dan sugesti untuk menang. Tapi harus diimbangi usaha juga lah.
**
Dua hari berlalu, beberapa kelas sudah bertanding. Sore ini setelah KBM selesai, giliran aku dan tim futsal kelasku  yang bertanding. Kali ini aku optimis pasti menang. Semoga.
“semangat ya Dim. Pasti bisa!” ucap Winda dengan lembut. Aku membalasnya dengan senyuman. Senyum ini tak biasa, khusus untuk Winda. Seseorang yang selalu menyemangati dan mendukungku dalam dunia bola ini. Entah apa maksud dari semua ini. Seperhatian ini dia sama aku.
Tim lawan sudah siap. begitu juga dengan tim kelasku. Baju futsal berwarna merah menjadi pembakar semangat kita. Kita melangkah menuju lapangan futsal. Dua orang wasit sudah stand by dengan beberapa kartu disaku dan peluit yang menggantung dilehernya.
*triiiiiiit wasit meniup peluit itu.
Tak sulit untuk tim kelasku membobol gawang tim lawan. Selang waktu 10 menit setelah peluit pertama dibunyikan, 2 gol sudah tercipta dari timku. Hingga sampai waktu pertandingan berakhir, skor masih tetap. Dan itu tandanya pertandingan hari ini, tim kelasku yang memenangkan. Teman-teman kelasku semuanya bersorak riang ketika peluit panjang ditiup.
“kalian luar biasaaa bro” ucap Iqbal senang.
“gue yakin, kita bisa maju sampai babak final dan....” ucapanku terhenti.
“ini minum buat lo” Windi memberikan minuman ditangannya kepadaku. Aku menerima dan meminumnya. Anak-anak yang lain pergi meninggalkan aku dan Winda.
“lo hebat. Selamat ya” ucapnya sambil berbalik badan dan pergi meninggalkanku sendirian.
“Hmm Winda. Lo yang jadi alasan gue bisa kaya gini. Lo yang selalu support gue. Thanks Win” ucapku dalam hati sambil terus memperhatikan Winda yang berlalu pulang.
**
Lawan demi lawan berhasil kita taklukan. Babak  final kini menanti. Oke, tim kelasku sudah siap.
Khusus hari ini, pertandingan dimulai dari pagi. Lawan tim kelasku sekarang adalah tim kelasnya Dani.
Ah rasanya sulit, tim mereka begitu hebat. Tapi tak apa, apa salahnya mencoba. Sebelum pertandingan dimulai, aku pergi ke loker untuk menyimpan pakaianku sebelumnya. Terlihat Winda sedang berbicara dengan seorang lelaki berkaos biru. Semakin dekat aku melihat. Ternyata itu Dani. Mereka terlihat begitu akrab dan mesra. mereka seperti orang pacaran.
“Windi. Ternyata loe… ah sudahlah” kemudian aku segera kembali ke lapangan futsal. Aku dan teman-teman pasti bisa menaklukan mereka. Tapi pikiranku tak fokus. Lalu apa bisa?
Beberapa detik lagi pertandingan final ini dimulai. Dani dan Winda masih berada dipuing-puing otakku. Jangan sampai aku gagal fokus cuma gara-gara mereka. Winda berada dikursi penonton itu. Begitu cantik aku lihat. Aduh apaan sih. Inget! dia milik orang lain. Pertandingan kali ini rasanya jadi permainan terburuk untukku. Tak ada satu gol pun yang aku ciptakan. Ah sial. Tim Dani jadi juara satu. Pertandingan ini berakhir dengan skor 5-3. Semua bersalaman dan mengucapkan selamat pada tim Dani. Ku lihat Winda menjadi orang pertama yang mengucapkan itu pada Dani. Hah. Sakit. Aku berjalan meninggalkan lapangan dengan wajah kesal dan cemburu.
“Dimas, tunggu!” teriak cewe yang suaranya tak asing bagiku, itu Winda.
Untuk apa lagi dia memanggilku? Mungkin mau menghina karena aku kalah dari pacarnya itu. Aku tak menghiraukan teriakan Winda. Aku terus berjalan. Namun Winda terus mengejarku.
“Tunggu dong Dim, lo kenapa sih?”
“lo mau ngehina gue kan gara-gara gue kalah?” jawabku sambil terus melangkahkan kaki.
“engga Dim, kalah menang itu biasa. Gue tau lo udah berjuang. Gue harap kekalahan ini ga jadiin lo cowok yang gampang nyerah” balas Winda. Aku diam tanpa membalas omongannya. Hingga akhirnya Winda menghentikan langkahku. Dia berdiri didepanku.
“Dim,stop dong jangan kaya gini!” sentak Winda.
“lo apaan sih? Udah sana balik lagi sama pacar lo disana” ucapku sambil nunjuk ke lapangan.
“kok lo… ?”
“Perhatian lo sama gue selama ini apa artinya? selama ini lo jadi penyemangat gue. Lo alasan kenapa gue jadi kaya gini sekarang. Tadinya gue mau lo jadi pendamping hidup gue. Gue sayang sama lo. tapi percuma… gue telat. lo udah sama yang lain”  aku mengalihkan wajahku dari Winda. Kita terdiam saling berhadapan. 10 detik kemudian dia memelukku.
“selama ini gue nunggu lo nyatain perasaan lo ke gue, nunggu lo nembak gue. karena selama ini gue juga sayang sama lo. dan pacar gue? maksud lo, Dani? Dia itu sepupu gue Dim” jelasnya.
“serius lo? gue kira dia pacar lo.” perasaan kesalku mulai mencair begitu mendengar penjelasan Winda.
“gue berharap sih pacar gue itu Cuma lo” ungkapnya malu-malu.
“tapi gue mau lo jadi pendamping hidup gue bersama dunia bola gue, Win. Bukan cuma pacar. Tunggu gue ngelamar lo beberapa tahun lagi ya” jawabku sambil memegang tangannya penuh cinta.
“gue pasti tunggu lo, Dim” balas Winda.


Sunday, 17 August 2014

Cerpen "Mimpi Kita"

Namaku adalah Rahmi Ramadhani . aku hanyalah gadis dari desa yang merantau ke kota metropolitan dengan berharap bisa menggapai apa yang menjadi cita-citaku selama ini. Sekarang aku tinggal di Jakarta bersama kakak sekaligus istrinya. aku sekolah di SMAN 2 Jakarta. Duduk dibangku kelas XI. Kakakku yang mengurus dan membiayai semua keperluan sekolahku disini.
**
Hari sudah  pagi. Aku bergegas siap-siap untuk pergi ke sekolah baruku. Tak ingin terlambat walau sedetik pun. Ayo.. aku harus semangat! Demi kedua orang tua dan keluargaku. Aku tak ingin mengecewakan mereka. Tapi apakah aku bisa beradaptasi dan berteman baik dengan teman-teman baruku nanti? Aku takut mereka tak ingin berteman dengan anak desa seperti aku  ini. Tapi kenapa tidak? Toh aku dan mereka sama kok. Sama-sama mau menuntut ilmu. Yaa.. aku pasti bisa!
Aku keluar dari kamar dan menghampiri kakak-kakakku yang berada di ruang tengah.
  “kak, aku pamit berangkat sekolah dulu ya”
“kamu masih ingat kan jalannya? Bisa-bisa nanti kamu  tersesat lagi” kata kakakku khawatir.
“iya aku masih ingat kok kak. Lagian lumayan deket juga kan? Jadi gak akan tersesat, tenang aja!” jawabku enteng.
“yaudah kalau gitu kamu hati-hai ya!” kata kakak iparku.
“oke kak” kataku sambil mencium tangan kakakku dan istrinya itu.
Aku berangkat menggunakan sepeda motor pemberian kakak. Selama perjalanan menuju sekolah, aku membayangkan bagaimana teman-teman sekelas nanti? Apakah mereka sombong, banyak gaya dan suka nge-bully seperti yang di tv-tv itu? . aaah.. aku harap tidak.
 Tak terasa aku pun sudah berada tepat di pintu masuk sekolah. Aku masuk dan mulai kebingungan mencari ruangan yang akan menjadi kelasku. Sudah hampir semua sudut sekolah ini aku lalui, tapi belum ketemu juga.  Aku terus berjalan. Hingga akhirnya sebuah papan bertuliskan Kelas XI IA 3 terpampang di atas pintu kelas yang ada di hadapanku.
Suasana kelas  yang ramai dengan penghuninya yang asing, membuatku tak berani masuk sebelum bel masuk berbunyi. Aku berdiri didepan pintu sambil melihat apa yang ada disekitarku saat ini. Lalu-lalang murid yang menuju kelasnya masing-masing.
“hai, kamu siapa? Anak baru ya?” Tanya seorang cowok yang membuatku terkejut.
“eh.. emm iya. Aku anak baru” jawabku gugup.
Cowok ini rasanya aku kenal. Wajahnya gak asing buatku.
“hei, kok ngelamun?” Kata cowok itu sambil melambai-lambaikan tangannya didepan wajahku.
Seketika itu aku tersadar dari lamunanku.
“eh, iya maaf”
“jadi kamu  ini di kelas mana?” tanyanya penasaran.
“kelas aku disini. XI IA 3”
“lho, berarti kita sekelas dong. Kenalin, namaku Daniel” dia mengulurkan tangannya.
“aku Rahmi” membalas uluran tangannya
*teeeng.. teeeng
Bel berbunyi pertanda pelajaran akan segera dimulai. Aku dan Daniel masuk kelas bersama. Kelas yang tadinya ramai, menjadi hening ketika aku dan Daniel datang. Semua mata tertuju padaku. Mungkin mereka heran, siapa yang bersama temannya itu?.  Sambil menunggu guru masuk, Daniel pun memperkenalkan aku kepada murid-murid di kelas ini.
“teman-teman kenalin nih teman baru kita, Namanya Rahmi. Aku harap kita bisa menerima dan berteman baik dengan Rahmi” jelasnya.
“Pindahan dari mana?” Tanya seseorang .
Belum sempat menjawab pertanyaan itu, aku dan Daniel bertatapan begitu mendengar suara langkah kaki seseorang menuju kelas ini. Aku langsung beranjak ke tempat duduk yang kosong. Begitu juga dengan Daniel. Dan benar saja, seseorang muncul dari balik pintu dengan membawa beberapa tumpukkan buku ditangannya. Ya beliau adalah bapak guru yang akan mengajar di kelasku hari ini.
Jam pelajaran sudah habis. Hari pertama masuk sekolah berhasil aku lewati dengan baik dan senang hati. Ternyata teman-teman disini baik-baik. Gak seperti apa yang aku pikirkan selama ini. Iya, memang gak semua anak di Jakarta itu sombong dan suka nge-bully. Seharusnya memang aku tak berpikiran negatif tentang anak-anak disini.
“mi, mau pulang bareng gak?”ajak teman disebelahku yang bernama Nadia.
“makasih Nad tawarannya, tapi aku bawa motor”
“oh iya enggak apa-apa. Kalau gitu aku pulang duluan ya? daaah” sambil beranjak keluar.
“oke . Hati-hati Nad” kataku dengan suara agak keras.
Daniel menghampiri dan duduk disampingku yang tengah membereskan buku ke tas.
“kamu pulang naik motor? Barengan yuk ke parkirannya” ajak Daniel.
“iya ayo” 
Aku dan Daniel berjalan menuju parkiran.
“oh iya, ngomong-ngomong kenapa sih kamu mau tinggal dan sekolah di Jakarta?” Daniel memulai pembicaraan.
“Disini aku mau mengejar mimpi aku. Mengejar apa yang menjadi cita-citaku selama ini. Mungkin disini aku bisa lebih fokus”
“emang apa cita-cita kamu?”
“aku mau jadi penulis” jawabku percaya diri.
“waaah.. kok bisa sama ya?”
“laah, emang kamu juga mau jadi penulis?”
“iya, aku juga mau banget jadi penulis yang terkenal. Kita bisa raih mimpi bareng-bareng dong”  ujar Daniel sambil tersenyum dengan penuh harapan.
“oke, kita raih mimpi bareng-bareng. Semangaaaat!”  kataku bersemangat.
**
Semakin hari, persahabatan aku dan Daniel menjadi semakin erat. Terlebih karena kita sama-sama hobi menulis. Banyak hal yang kita lewati bersama-sama, apalagi dalam hal menulis dan berkarya. Daniel selalu memotivasi dan menginspirasiku. Dia yang selalu ngasih kritik dan saran pada tulisanku agar lebih baik dan baik lagi. Sekarang aku tahu kalau dia memang benar-benar peduli sama aku, mimpiku dan mimpinya. Iya, peduli pada mimpi kita.  Kita selalu bersama-sama dalam keadaan apapun. Bahkan teman-temanku bilang kalau ada aku pasti ada Daniel, sudah seperti perangko yang menempel lekat disuratnya. Banyak yang mengira aku dan Daniel berpacaran. Salah satunya adalah Dinda, kakak kelasku yang ngetop di sekolahku ini. Siapa sih yang gak kenal Dinda?. Semua penghuni sekolah ini pasti mengenalnya. Gadis cantik, anak pengusaha terkenal di Jakarta. Namun sayang, sifat sombong dan angkuhnya membuat kecantikannya luntur dihadapanku terutama dihadapan Daniel. Menurut ungkapan Daniel saat aku tanya tentang Dinda, ternyata Dinda sudah lama suka dan mengejar  Daniel, tapi tak pernah direspon sedikitpun.
“heh, sini  lo!” Dinda menunjuk dan memanggilku ketika aku sampai diparkiran sekolah. sepertinya dia sudah lama menunggu kedatanganku. Terlihat dari wajahnya yang sudah mulai bĂȘte. Tapi.. tumben dia sudah ada di sekolah jam segini. Ada apa ya? Dengan hati yang dag dig dug, aku menghampiri Dinda.
“iya ka, ada apa?” aku mencoba santai menanggapinya.
“jangan so polos deh lo! Gue peringatin ya sama lo, sebaiknya lo jauhin Daniel deh! Jangan deket-deket sama dia! Ngerti lo?”
“emangnya kenapa ka? Aku kan Cuma sahabatan sama Daniel. Kita gak pacaran ko”
“mau sahabatan atau apapun itu, lo harus jauhin Daniel! Awas aja lo kalo masih deket-deket!” Dinda mendorongku sampai terjatuh. Teman-teman yang melihtku tak ada yang berani menolongku, karena Dinda masih berada tepat didepanku. Tak lama, Dinda pun lenyap dari hadapanku. Kenapa Dinda selalu seenaknya sama orang lain? Apa dia merasa punya segalanya? Kemana hati nurani dia? aku heran.
Dengan lutut yang sakit akibat dorongan Dinda, aku mencoba berdiri. Berjalan tertatih-tatih menuju kelas.
Aku berpapasan dengan Daniel dari arah berlawanan. Dia melirik ke arah lututku yang memar. Ekspresi dia yang terlihat antara heran dan khawatir dengan keadaanku. Segera dia memapangku ke uks. Aku menceritakan sikap Dinda kepadaku tadi. Dia tak percaya Dinda setega itu  kepadaku. Daniel berbicara baik-baik kepada Dinda untuk tidak lagi melakukan hal yang sama. Untuk tidak melarangku dekat dengannya. Daniel mengungkapkan harapannya agar Dinda merubah sifatnya yang angkuh dan sombong itu. Ya itu memang ide yang baik dibanding harus marah-marah dan balas dendam.
**
Aku heran dengan perubahan sikap Daniel terhadapku yang tiba-tiba berubah. Tak seperti biasanya, Akhir-akhir ini Daniel seperti jaga jarak denganku. Jarang ada waktu untuk bersamaku. Sekolah pun jarang. Aneeeh, biasanya dia yang paling rajin sekolah. Aku dan Daniel benar-benar lost-contac dalam pikiranku penuh dengan pertanyaan tentangnya. kenapa Daniel jadi begini? Apa ada sesuatu?.
Nadia yang melihatku sedang gundah, langsung bertanya kepadaku.
“kamu kenapa sih? kayanya lagi mikirin sesuatu. Mikirin apa sih?” tanyanya dengan wajah penasaran.
“ini Nad, aku lagi mikirin Daniel. Kenapa ya dia kok beda? Gak seperti yang aku kenal dulu. Kamu tahu gak kenapa?”
“emm.. “ Nadia kebingungan.
“kamu tahu sesuatu tentang dia ya? Ayo jujur Nad!” aku setengah memaksa.
“sebenarnya….” Nadia menghentikan obrolannya seperti ragu-ragu untuk mengatakannya.
“ Sebenarnya apa Nad?”
“sebenarnyaaa.. Daniel sakit  mi. beberapa bulan yang lalu dia dinyatakan sakit kanker. Dia menyembunyikannya dari kamu, karena dia gak mau buat kamu sedih dengan keadaannya” jelas Nadia
“kamu gak bohong kan? Kenapa kamu baru kasih tahu aku sekarang Nad? Kenapaaa?”
“tadinya aku gak mau lihat kamu sedih mi. Tapi makin lama aku gak tega lihat kamu seperti ini. Makanya aku ungkap semuanya sekarang. Maafin aku Mi”
“Sekarang dimana dia? Aku mau bertemu dengannya”
“Kemarin dia pergi ke Australi untuk berobat mi. Dan dia menitipkan surat ini untukmu” kata Nadia sambil menyerahkan surat yang ada ditangannya.
Aku membuka dan membaca surat itu.

Dear Rahmi,
Ketika kamu baca surat ini, aku sudah berada di Negara lain. Mungkin kamu sudah tahu dari Nadia atas apa yang ku alami. Maaf aku gak berani berpamitan langsung kepadamu. Do’a kan aku supaya pengobatanku disini membuahkan hasil supaya nanti kita bisa meraih mimpi kita sama-sama. Seandainya umurku tak lama lagi dan aku tak bisa meraih mimpiku, aku akan merasa bahagia kalau kamu bisa meraih mimpi kita. Kamu janji ya untuk selalu berkarya, terutama berkarya dalam menulis! Semangaaat sahabatku! Aku bahagia bisa kenal dan bersahabat denganmu.
 Bye Daniel

Perlahan air mataku menetes tanpa sadar ketika membaca surat itu  “aku pasti selalu berdoa untuk kesembuhanmu , Daniel” ucapku setelah membaca surat itu. aku  menangis dalam pelukkan Nadia. Nadia pasti tahu perasaanku yang tak ingin kehilangan sahabat seperti Daniel. Mata Nadia ikut berkaca-kaca saat aku menangis.
**
Dua  bulan telah berlalu. Tak pernah ada kabar yang aku dengar tentang Daniel. Apa dia masih belum sembuh dari sakitnya? Segitu parahnya kah penyakit dia? Setiap hari aku selalu berharap dapat kabar darinya.
 Ddrrtt.. drrtt. Tiba-tiba handphoneku bergetar pertanda ada sms masuk. Nomornya gak dikenal. Siapa ya?. Aku buka dan membaca smsnya. Hah? Apakah sms ini beneran dari orang tuanya Daniel? Badanku lemas setelah membaca sms itu. air mataku mengalir deras. Kenapa Daniel ninggalin aku secepat ini? Kali ini Daniel benar-benar pergi. Pergi dari kehidupan ini. Tak aku sangka umur Daniel begitu singkat. Rasanya baru kemarin kita bertemu. Tapi sekarang kita berpisah. Selamat jalan sahabatku. Semoga kamu tenang di alam sana. aku akan mencoba mewujudkan mimpi kita untuk jadi penulis yang hebat. Ya aku akan berusaha mewujudkannya!
Hari demi hari aku lewati tanpa adanya sosok sahabat sebaik Daniel. Aku benar-benar kehilangan. Kehilangan sahabat yang selalu ada saat suka maupun duka. Sahabat yang tak pernah bosan mendengar keluh kesahku tentang kehidupan ini. Kadang, kenangan aku dengannya selalu hadir dalam aktifitasku. Selalu ingin kembali pda masa-masa indah itu. Tapi itu tak mungkin. Aku tak boleh larut dalam kesedihan. Ingat! Masih ada hari-hari yang harus aku  lewati dengan baik dan indah. Seperti kata Daniel, aku harus semangat dalam menjalani kehidupan ini. Harus!. Dengan tekad yang bulat dan kuat, semangat yang menggebu dan harapan yang besar, aku mampu bangkit dari kesedihan. Ada Nadia dan keluarga Daniel yang selalu berusaha menghibur dan membantuku untuk mewujudkan mimpiku.
Aku mengikuti kompetisi menulis cerpen antar sekolah. semuanya aku lewati dengan optimis. Tiba saatnya pengumuman juara penulis terbaik. Kakak, Nadia dan keluarga Daniel hadir mendampingiku. Hatiku tak karuan. Harap-harap cemas menantikan pengumuman itu.
“Dan yang meraih juara pertama sekaligus meraih predikat penulis cerpen terbaik antar sekolah ini adalaaaah….” Pembawa acara itu menghentikan ucapannya sejenak.
“Rahmi Ramadhani” dia melanjutkan ucapannya dengan lantang.
Suara tepuk tangan dari orang-orang meramaikan suasana bahagia ini. Ucapan dari teman-teman terdekatku terus mengalir. Aku senang bukan main. Prestasi ini aku persembahkan untuk Daniel yang mungkin juga melihatku disini sedang berbahagia. Aku menuju podium dan mengucapkan ucapan terima kasihku.
“terima kasih untuk orang-orang yang selalu ada dan mendukung aku. Semua ini aku persembahkan untuk sahabatku yang berada di alam sana. Kita punya mimpi yang sama dan pernah mencoba mewujudkan mimpi sama-sama. Namun, Allah berkehendak lain. Terima kasih untuk semuanya. Semoga ini awal yang baik untukku”.

*The End*

Karya: Ira Rahmawati