Lapangan hijau menjadi tempat
favoritku. Walaupun ada beratus-ratus tempat yang mungkin lebih menyenangkan dari
ini, tapi bagiku lapangan bola tetap yang paling menyenangkan. Hobiku bermain
sepak bola. Tak aneh kan? Iya emang kebanyakan hobi seorang lelaki itu adalah
bermain sepak bola.
Meskipun ada beberapa yang sama sekali tak menyukainya. Mereka punya alasannya masing-masing,termasuk aku.“eh Dim, ada kabar bagus nih” ujar Ifan yang datang ke kelas dengan nafas tak karuan.“ada apaan sih lo? rempong amat” jawabku
Meskipun ada beberapa yang sama sekali tak menyukainya. Mereka punya alasannya masing-masing,termasuk aku.“eh Dim, ada kabar bagus nih” ujar Ifan yang datang ke kelas dengan nafas tak karuan.“ada apaan sih lo? rempong amat” jawabku
“tadi gue denger dari ketua tim
futsal… katanya bakalan ada pertandingan futsal antar kelas” lanjut Ifan.
“serius lo Fan?” samber Iqbal
yang langsung menghampiri bangku aku dan
Ifan.
“ga percaya lo? berita dari gue
itu actual dan terpercaya kali” jawab Ifan dengan nada tinggi.
“ Okelah kalo emang bener,
pokonya tim futsal kelas kita mesti ikutan bro. tunjukin kemampuan kita!” kataku bersemangat.
Jam pelajaran sebentar lagi akan
dimulai. Kimia menjadi pelajaran pertama hari ini. Malas sebenarnya aku
menghadapi rumus-rumus yang sudah menanti. Aku memang tak pandai dalam hal ini,
ku akui itu. Dan sekarang, pikiranku tertuju pada perkataan Ifan tadi. Semoga
berita itu benar adanya. Sudah lama aku menginginkan pertandingan sepak bola
ataupun futsal di sekolah ini. Aku tak memperhatikan apa yang dijelaskan guru
kimia di depan. Tak lama, seseorang masuk.
“maaf bu, mengganggu waktunya.
Saya mau menyampaikan pengumuman sebentar, boleh?” ucap ketua tim futsal bernama
Dani dari pintu kelas ku.
“iya silakan” jawab ibu guru.
Aku melirik kearah Ifan dan Iqbal
begitu Dani masuk ke kelas. Kayanya ucapan Ifan emang engga omong kosong.
“gue ga boong bro, tuh buktinya”
bisik Ifan kepada Iqbal sambil tersenyum.
“saya selaku ketua tim futsal
ingin memberitahukan bahwa selama beberapa minggu ke depan akan diadakan pertandingan
futsal antar kelas. Untuk pendaftarannya ditunggu di aula setelah pulang
sekolah. terima kasih”
Suasana kelas mulai riuh saat itu
pula.
“kalian wajib ikutan!” celetuk
temanku yang bernama Winda.
“tenang! Kita pasti ikutan dan
pasti menang” jawab Ifan dengan pede.
Iyalah, pede itu harus untuk menambah semangat dan sugesti untuk menang. Tapi
harus diimbangi usaha juga lah.
**
Dua hari berlalu, beberapa kelas
sudah bertanding. Sore ini setelah KBM selesai, giliran aku dan tim futsal
kelasku yang bertanding. Kali ini aku
optimis pasti menang. Semoga.
“semangat ya Dim. Pasti bisa!”
ucap Winda dengan lembut. Aku membalasnya dengan senyuman. Senyum ini tak
biasa, khusus untuk Winda. Seseorang yang selalu menyemangati dan mendukungku
dalam dunia bola ini. Entah apa maksud dari semua ini. Seperhatian ini dia sama
aku.
Tim lawan sudah siap. begitu juga
dengan tim kelasku. Baju futsal berwarna merah menjadi pembakar semangat kita.
Kita melangkah menuju lapangan futsal. Dua orang wasit sudah stand by dengan
beberapa kartu disaku dan peluit yang menggantung dilehernya.
*triiiiiiit wasit meniup peluit
itu.
Tak sulit untuk tim kelasku
membobol gawang tim lawan. Selang waktu 10 menit setelah peluit pertama
dibunyikan, 2 gol sudah tercipta dari timku. Hingga sampai waktu pertandingan
berakhir, skor masih tetap. Dan itu tandanya pertandingan hari ini, tim kelasku
yang memenangkan. Teman-teman kelasku semuanya bersorak riang ketika peluit
panjang ditiup.
“kalian luar biasaaa bro” ucap Iqbal
senang.
“gue yakin, kita bisa maju sampai
babak final dan....” ucapanku terhenti.
“ini minum buat lo” Windi
memberikan minuman ditangannya kepadaku. Aku menerima dan meminumnya. Anak-anak
yang lain pergi meninggalkan aku dan Winda.
“lo hebat. Selamat ya” ucapnya
sambil berbalik badan dan pergi meninggalkanku sendirian.
“Hmm Winda. Lo yang jadi alasan
gue bisa kaya gini. Lo yang selalu support gue. Thanks Win” ucapku dalam hati sambil
terus memperhatikan Winda yang berlalu pulang.
**
Lawan demi lawan berhasil kita
taklukan. Babak final kini menanti. Oke,
tim kelasku sudah siap.
Khusus hari ini, pertandingan
dimulai dari pagi. Lawan tim kelasku sekarang adalah tim kelasnya Dani.
Ah rasanya sulit, tim mereka
begitu hebat. Tapi tak apa, apa salahnya mencoba. Sebelum pertandingan dimulai,
aku pergi ke loker untuk menyimpan pakaianku sebelumnya. Terlihat Winda sedang
berbicara dengan seorang lelaki berkaos biru. Semakin dekat aku melihat.
Ternyata itu Dani. Mereka terlihat begitu akrab dan mesra. mereka seperti orang
pacaran.
“Windi. Ternyata loe… ah sudahlah”
kemudian aku segera kembali ke lapangan futsal. Aku dan teman-teman pasti bisa
menaklukan mereka. Tapi pikiranku tak fokus. Lalu apa bisa?
Beberapa detik lagi pertandingan
final ini dimulai. Dani dan Winda masih berada dipuing-puing otakku. Jangan
sampai aku gagal fokus cuma gara-gara mereka. Winda berada dikursi penonton
itu. Begitu cantik aku lihat. Aduh apaan sih. Inget! dia milik orang lain. Pertandingan
kali ini rasanya jadi permainan terburuk untukku. Tak ada satu gol pun yang aku
ciptakan. Ah sial. Tim Dani jadi juara satu. Pertandingan ini berakhir dengan
skor 5-3. Semua bersalaman dan mengucapkan selamat pada tim Dani. Ku lihat
Winda menjadi orang pertama yang mengucapkan itu pada Dani. Hah. Sakit. Aku
berjalan meninggalkan lapangan dengan wajah kesal dan cemburu.
“Dimas, tunggu!” teriak cewe yang
suaranya tak asing bagiku, itu Winda.
Untuk apa lagi dia memanggilku?
Mungkin mau menghina karena aku kalah dari pacarnya itu. Aku tak menghiraukan
teriakan Winda. Aku terus berjalan. Namun Winda terus mengejarku.
“Tunggu dong Dim, lo kenapa sih?”
“lo mau ngehina gue kan gara-gara
gue kalah?” jawabku sambil terus melangkahkan kaki.
“engga Dim, kalah menang itu
biasa. Gue tau lo udah berjuang. Gue harap kekalahan ini ga jadiin lo cowok
yang gampang nyerah” balas Winda. Aku diam tanpa membalas omongannya. Hingga
akhirnya Winda menghentikan langkahku. Dia berdiri didepanku.
“Dim,stop dong jangan kaya gini!”
sentak Winda.
“lo apaan sih? Udah sana balik
lagi sama pacar lo disana” ucapku sambil nunjuk ke lapangan.
“kok lo… ?”
“Perhatian lo sama gue selama ini
apa artinya? selama ini lo jadi penyemangat gue. Lo alasan kenapa gue jadi kaya
gini sekarang. Tadinya gue mau lo jadi pendamping hidup gue. Gue sayang sama
lo. tapi percuma… gue telat. lo udah sama yang lain” aku mengalihkan wajahku dari Winda. Kita
terdiam saling berhadapan. 10 detik kemudian dia memelukku.
“selama ini gue nunggu lo nyatain
perasaan lo ke gue, nunggu lo nembak gue. karena selama ini gue juga sayang
sama lo. dan pacar gue? maksud lo, Dani? Dia itu sepupu gue Dim” jelasnya.
“serius lo? gue kira dia pacar lo.”
perasaan kesalku mulai mencair begitu mendengar penjelasan Winda.
“gue berharap sih pacar gue itu
Cuma lo” ungkapnya malu-malu.
“tapi gue mau lo jadi pendamping
hidup gue bersama dunia bola gue, Win. Bukan cuma pacar. Tunggu gue ngelamar lo
beberapa tahun lagi ya” jawabku sambil memegang tangannya penuh cinta.
“gue pasti tunggu lo, Dim” balas
Winda.