Sunday, 17 August 2014

Cerpen "Mimpi Kita"

Namaku adalah Rahmi Ramadhani . aku hanyalah gadis dari desa yang merantau ke kota metropolitan dengan berharap bisa menggapai apa yang menjadi cita-citaku selama ini. Sekarang aku tinggal di Jakarta bersama kakak sekaligus istrinya. aku sekolah di SMAN 2 Jakarta. Duduk dibangku kelas XI. Kakakku yang mengurus dan membiayai semua keperluan sekolahku disini.
**
Hari sudah  pagi. Aku bergegas siap-siap untuk pergi ke sekolah baruku. Tak ingin terlambat walau sedetik pun. Ayo.. aku harus semangat! Demi kedua orang tua dan keluargaku. Aku tak ingin mengecewakan mereka. Tapi apakah aku bisa beradaptasi dan berteman baik dengan teman-teman baruku nanti? Aku takut mereka tak ingin berteman dengan anak desa seperti aku  ini. Tapi kenapa tidak? Toh aku dan mereka sama kok. Sama-sama mau menuntut ilmu. Yaa.. aku pasti bisa!
Aku keluar dari kamar dan menghampiri kakak-kakakku yang berada di ruang tengah.
  “kak, aku pamit berangkat sekolah dulu ya”
“kamu masih ingat kan jalannya? Bisa-bisa nanti kamu  tersesat lagi” kata kakakku khawatir.
“iya aku masih ingat kok kak. Lagian lumayan deket juga kan? Jadi gak akan tersesat, tenang aja!” jawabku enteng.
“yaudah kalau gitu kamu hati-hai ya!” kata kakak iparku.
“oke kak” kataku sambil mencium tangan kakakku dan istrinya itu.
Aku berangkat menggunakan sepeda motor pemberian kakak. Selama perjalanan menuju sekolah, aku membayangkan bagaimana teman-teman sekelas nanti? Apakah mereka sombong, banyak gaya dan suka nge-bully seperti yang di tv-tv itu? . aaah.. aku harap tidak.
 Tak terasa aku pun sudah berada tepat di pintu masuk sekolah. Aku masuk dan mulai kebingungan mencari ruangan yang akan menjadi kelasku. Sudah hampir semua sudut sekolah ini aku lalui, tapi belum ketemu juga.  Aku terus berjalan. Hingga akhirnya sebuah papan bertuliskan Kelas XI IA 3 terpampang di atas pintu kelas yang ada di hadapanku.
Suasana kelas  yang ramai dengan penghuninya yang asing, membuatku tak berani masuk sebelum bel masuk berbunyi. Aku berdiri didepan pintu sambil melihat apa yang ada disekitarku saat ini. Lalu-lalang murid yang menuju kelasnya masing-masing.
“hai, kamu siapa? Anak baru ya?” Tanya seorang cowok yang membuatku terkejut.
“eh.. emm iya. Aku anak baru” jawabku gugup.
Cowok ini rasanya aku kenal. Wajahnya gak asing buatku.
“hei, kok ngelamun?” Kata cowok itu sambil melambai-lambaikan tangannya didepan wajahku.
Seketika itu aku tersadar dari lamunanku.
“eh, iya maaf”
“jadi kamu  ini di kelas mana?” tanyanya penasaran.
“kelas aku disini. XI IA 3”
“lho, berarti kita sekelas dong. Kenalin, namaku Daniel” dia mengulurkan tangannya.
“aku Rahmi” membalas uluran tangannya
*teeeng.. teeeng
Bel berbunyi pertanda pelajaran akan segera dimulai. Aku dan Daniel masuk kelas bersama. Kelas yang tadinya ramai, menjadi hening ketika aku dan Daniel datang. Semua mata tertuju padaku. Mungkin mereka heran, siapa yang bersama temannya itu?.  Sambil menunggu guru masuk, Daniel pun memperkenalkan aku kepada murid-murid di kelas ini.
“teman-teman kenalin nih teman baru kita, Namanya Rahmi. Aku harap kita bisa menerima dan berteman baik dengan Rahmi” jelasnya.
“Pindahan dari mana?” Tanya seseorang .
Belum sempat menjawab pertanyaan itu, aku dan Daniel bertatapan begitu mendengar suara langkah kaki seseorang menuju kelas ini. Aku langsung beranjak ke tempat duduk yang kosong. Begitu juga dengan Daniel. Dan benar saja, seseorang muncul dari balik pintu dengan membawa beberapa tumpukkan buku ditangannya. Ya beliau adalah bapak guru yang akan mengajar di kelasku hari ini.
Jam pelajaran sudah habis. Hari pertama masuk sekolah berhasil aku lewati dengan baik dan senang hati. Ternyata teman-teman disini baik-baik. Gak seperti apa yang aku pikirkan selama ini. Iya, memang gak semua anak di Jakarta itu sombong dan suka nge-bully. Seharusnya memang aku tak berpikiran negatif tentang anak-anak disini.
“mi, mau pulang bareng gak?”ajak teman disebelahku yang bernama Nadia.
“makasih Nad tawarannya, tapi aku bawa motor”
“oh iya enggak apa-apa. Kalau gitu aku pulang duluan ya? daaah” sambil beranjak keluar.
“oke . Hati-hati Nad” kataku dengan suara agak keras.
Daniel menghampiri dan duduk disampingku yang tengah membereskan buku ke tas.
“kamu pulang naik motor? Barengan yuk ke parkirannya” ajak Daniel.
“iya ayo” 
Aku dan Daniel berjalan menuju parkiran.
“oh iya, ngomong-ngomong kenapa sih kamu mau tinggal dan sekolah di Jakarta?” Daniel memulai pembicaraan.
“Disini aku mau mengejar mimpi aku. Mengejar apa yang menjadi cita-citaku selama ini. Mungkin disini aku bisa lebih fokus”
“emang apa cita-cita kamu?”
“aku mau jadi penulis” jawabku percaya diri.
“waaah.. kok bisa sama ya?”
“laah, emang kamu juga mau jadi penulis?”
“iya, aku juga mau banget jadi penulis yang terkenal. Kita bisa raih mimpi bareng-bareng dong”  ujar Daniel sambil tersenyum dengan penuh harapan.
“oke, kita raih mimpi bareng-bareng. Semangaaaat!”  kataku bersemangat.
**
Semakin hari, persahabatan aku dan Daniel menjadi semakin erat. Terlebih karena kita sama-sama hobi menulis. Banyak hal yang kita lewati bersama-sama, apalagi dalam hal menulis dan berkarya. Daniel selalu memotivasi dan menginspirasiku. Dia yang selalu ngasih kritik dan saran pada tulisanku agar lebih baik dan baik lagi. Sekarang aku tahu kalau dia memang benar-benar peduli sama aku, mimpiku dan mimpinya. Iya, peduli pada mimpi kita.  Kita selalu bersama-sama dalam keadaan apapun. Bahkan teman-temanku bilang kalau ada aku pasti ada Daniel, sudah seperti perangko yang menempel lekat disuratnya. Banyak yang mengira aku dan Daniel berpacaran. Salah satunya adalah Dinda, kakak kelasku yang ngetop di sekolahku ini. Siapa sih yang gak kenal Dinda?. Semua penghuni sekolah ini pasti mengenalnya. Gadis cantik, anak pengusaha terkenal di Jakarta. Namun sayang, sifat sombong dan angkuhnya membuat kecantikannya luntur dihadapanku terutama dihadapan Daniel. Menurut ungkapan Daniel saat aku tanya tentang Dinda, ternyata Dinda sudah lama suka dan mengejar  Daniel, tapi tak pernah direspon sedikitpun.
“heh, sini  lo!” Dinda menunjuk dan memanggilku ketika aku sampai diparkiran sekolah. sepertinya dia sudah lama menunggu kedatanganku. Terlihat dari wajahnya yang sudah mulai bĂȘte. Tapi.. tumben dia sudah ada di sekolah jam segini. Ada apa ya? Dengan hati yang dag dig dug, aku menghampiri Dinda.
“iya ka, ada apa?” aku mencoba santai menanggapinya.
“jangan so polos deh lo! Gue peringatin ya sama lo, sebaiknya lo jauhin Daniel deh! Jangan deket-deket sama dia! Ngerti lo?”
“emangnya kenapa ka? Aku kan Cuma sahabatan sama Daniel. Kita gak pacaran ko”
“mau sahabatan atau apapun itu, lo harus jauhin Daniel! Awas aja lo kalo masih deket-deket!” Dinda mendorongku sampai terjatuh. Teman-teman yang melihtku tak ada yang berani menolongku, karena Dinda masih berada tepat didepanku. Tak lama, Dinda pun lenyap dari hadapanku. Kenapa Dinda selalu seenaknya sama orang lain? Apa dia merasa punya segalanya? Kemana hati nurani dia? aku heran.
Dengan lutut yang sakit akibat dorongan Dinda, aku mencoba berdiri. Berjalan tertatih-tatih menuju kelas.
Aku berpapasan dengan Daniel dari arah berlawanan. Dia melirik ke arah lututku yang memar. Ekspresi dia yang terlihat antara heran dan khawatir dengan keadaanku. Segera dia memapangku ke uks. Aku menceritakan sikap Dinda kepadaku tadi. Dia tak percaya Dinda setega itu  kepadaku. Daniel berbicara baik-baik kepada Dinda untuk tidak lagi melakukan hal yang sama. Untuk tidak melarangku dekat dengannya. Daniel mengungkapkan harapannya agar Dinda merubah sifatnya yang angkuh dan sombong itu. Ya itu memang ide yang baik dibanding harus marah-marah dan balas dendam.
**
Aku heran dengan perubahan sikap Daniel terhadapku yang tiba-tiba berubah. Tak seperti biasanya, Akhir-akhir ini Daniel seperti jaga jarak denganku. Jarang ada waktu untuk bersamaku. Sekolah pun jarang. Aneeeh, biasanya dia yang paling rajin sekolah. Aku dan Daniel benar-benar lost-contac dalam pikiranku penuh dengan pertanyaan tentangnya. kenapa Daniel jadi begini? Apa ada sesuatu?.
Nadia yang melihatku sedang gundah, langsung bertanya kepadaku.
“kamu kenapa sih? kayanya lagi mikirin sesuatu. Mikirin apa sih?” tanyanya dengan wajah penasaran.
“ini Nad, aku lagi mikirin Daniel. Kenapa ya dia kok beda? Gak seperti yang aku kenal dulu. Kamu tahu gak kenapa?”
“emm.. “ Nadia kebingungan.
“kamu tahu sesuatu tentang dia ya? Ayo jujur Nad!” aku setengah memaksa.
“sebenarnya….” Nadia menghentikan obrolannya seperti ragu-ragu untuk mengatakannya.
“ Sebenarnya apa Nad?”
“sebenarnyaaa.. Daniel sakit  mi. beberapa bulan yang lalu dia dinyatakan sakit kanker. Dia menyembunyikannya dari kamu, karena dia gak mau buat kamu sedih dengan keadaannya” jelas Nadia
“kamu gak bohong kan? Kenapa kamu baru kasih tahu aku sekarang Nad? Kenapaaa?”
“tadinya aku gak mau lihat kamu sedih mi. Tapi makin lama aku gak tega lihat kamu seperti ini. Makanya aku ungkap semuanya sekarang. Maafin aku Mi”
“Sekarang dimana dia? Aku mau bertemu dengannya”
“Kemarin dia pergi ke Australi untuk berobat mi. Dan dia menitipkan surat ini untukmu” kata Nadia sambil menyerahkan surat yang ada ditangannya.
Aku membuka dan membaca surat itu.

Dear Rahmi,
Ketika kamu baca surat ini, aku sudah berada di Negara lain. Mungkin kamu sudah tahu dari Nadia atas apa yang ku alami. Maaf aku gak berani berpamitan langsung kepadamu. Do’a kan aku supaya pengobatanku disini membuahkan hasil supaya nanti kita bisa meraih mimpi kita sama-sama. Seandainya umurku tak lama lagi dan aku tak bisa meraih mimpiku, aku akan merasa bahagia kalau kamu bisa meraih mimpi kita. Kamu janji ya untuk selalu berkarya, terutama berkarya dalam menulis! Semangaaat sahabatku! Aku bahagia bisa kenal dan bersahabat denganmu.
 Bye Daniel

Perlahan air mataku menetes tanpa sadar ketika membaca surat itu  “aku pasti selalu berdoa untuk kesembuhanmu , Daniel” ucapku setelah membaca surat itu. aku  menangis dalam pelukkan Nadia. Nadia pasti tahu perasaanku yang tak ingin kehilangan sahabat seperti Daniel. Mata Nadia ikut berkaca-kaca saat aku menangis.
**
Dua  bulan telah berlalu. Tak pernah ada kabar yang aku dengar tentang Daniel. Apa dia masih belum sembuh dari sakitnya? Segitu parahnya kah penyakit dia? Setiap hari aku selalu berharap dapat kabar darinya.
 Ddrrtt.. drrtt. Tiba-tiba handphoneku bergetar pertanda ada sms masuk. Nomornya gak dikenal. Siapa ya?. Aku buka dan membaca smsnya. Hah? Apakah sms ini beneran dari orang tuanya Daniel? Badanku lemas setelah membaca sms itu. air mataku mengalir deras. Kenapa Daniel ninggalin aku secepat ini? Kali ini Daniel benar-benar pergi. Pergi dari kehidupan ini. Tak aku sangka umur Daniel begitu singkat. Rasanya baru kemarin kita bertemu. Tapi sekarang kita berpisah. Selamat jalan sahabatku. Semoga kamu tenang di alam sana. aku akan mencoba mewujudkan mimpi kita untuk jadi penulis yang hebat. Ya aku akan berusaha mewujudkannya!
Hari demi hari aku lewati tanpa adanya sosok sahabat sebaik Daniel. Aku benar-benar kehilangan. Kehilangan sahabat yang selalu ada saat suka maupun duka. Sahabat yang tak pernah bosan mendengar keluh kesahku tentang kehidupan ini. Kadang, kenangan aku dengannya selalu hadir dalam aktifitasku. Selalu ingin kembali pda masa-masa indah itu. Tapi itu tak mungkin. Aku tak boleh larut dalam kesedihan. Ingat! Masih ada hari-hari yang harus aku  lewati dengan baik dan indah. Seperti kata Daniel, aku harus semangat dalam menjalani kehidupan ini. Harus!. Dengan tekad yang bulat dan kuat, semangat yang menggebu dan harapan yang besar, aku mampu bangkit dari kesedihan. Ada Nadia dan keluarga Daniel yang selalu berusaha menghibur dan membantuku untuk mewujudkan mimpiku.
Aku mengikuti kompetisi menulis cerpen antar sekolah. semuanya aku lewati dengan optimis. Tiba saatnya pengumuman juara penulis terbaik. Kakak, Nadia dan keluarga Daniel hadir mendampingiku. Hatiku tak karuan. Harap-harap cemas menantikan pengumuman itu.
“Dan yang meraih juara pertama sekaligus meraih predikat penulis cerpen terbaik antar sekolah ini adalaaaah….” Pembawa acara itu menghentikan ucapannya sejenak.
“Rahmi Ramadhani” dia melanjutkan ucapannya dengan lantang.
Suara tepuk tangan dari orang-orang meramaikan suasana bahagia ini. Ucapan dari teman-teman terdekatku terus mengalir. Aku senang bukan main. Prestasi ini aku persembahkan untuk Daniel yang mungkin juga melihatku disini sedang berbahagia. Aku menuju podium dan mengucapkan ucapan terima kasihku.
“terima kasih untuk orang-orang yang selalu ada dan mendukung aku. Semua ini aku persembahkan untuk sahabatku yang berada di alam sana. Kita punya mimpi yang sama dan pernah mencoba mewujudkan mimpi sama-sama. Namun, Allah berkehendak lain. Terima kasih untuk semuanya. Semoga ini awal yang baik untukku”.

*The End*

Karya: Ira Rahmawati